Header Background

Refleksi Hari Santri, Prof. Ahmad Siboy Ajak Murid MTs. 1 Annuqayah Percaya Diri dan Perkuat Kompetensi

Refleksi Hari Santri, Prof. Ahmad Siboy Ajak Murid MTs. 1 Annuqayah Percaya Diri dan Perkuat Kompetensi

121 Views Jumat, 23 Oktober 2026
Prof. Siboy hadir sebagai Narasumber dalam Talk Show di Momen Hari Santri 2026

Prof. Siboy hadir sebagai Narasumber dalam Talk Show di Momen Hari Santri 2026

Guluk-Guluk_Prof. Dr. H. Ahmad Siboy, S.H., M.H., Guru Besar di Bidang Hukum Tata Negara Universitas Islam Malang sekaligus alumnus MTs. 1 Annuqayah, hadir sebagai narasumber dalam Talk Show Refleksi Hari Santri Nasional 2026 di halaman MTs. 1 Annuqayah, Kamis (22/10).

Kegiatan berlangsung dalam suasana santai dan interaktif. Dipandu oleh Bpk. Moh. Azizi, salah seorang guru MTs. 1 Annuqayah, diskusi terasa dekat dengan murid yang hadir.

Prof. Ahmad Siboy mengajak mereka merefleksikan kembali hakikat menjadi santri, sekaligus berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya, termasuk pengalaman selama menempuh pendidikan di madrasah dan pesantren.

Dengan gaya penyampaian yang khas dan sesekali diselingi humor, Prof. Siboy berhasil menarik perhatian para murid. Ia juga mengulas sejarah lahirnya Hari Santri dari sudut pandang keilmuan yang selama ini digelutinya, yakni hukum.

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya membangun kompetensi sebagai bekal menghadapi masa depan. Menurutnya, santri perlu menguasai bidang keilmuan tertentu tanpa mengabaikan ilmu-ilmu lainnya.

“Kita harus punya kompetensi karena itulah yang nantinya dicari. Meski begitu, jangan sampai ada dikotomi ilmu. Pelajari semuanya, tetapi tetap harus ada yang kalian prioritaskan. Selain itu, perluas ruang gerak dan jangan takut membangun relasi,” pesannya.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya semasa mondok di PP. Annuqayah daerah Lubangsa dulu. Saat itu, ia kerap berkunjung ke Latee untuk belajar bahasa Arab bersama teman-temannya. Kedekatan dengan lingkungan pesantren daerah lain, menurutnya, menjadi salah satu pengalaman berharga dalam proses belajar dan membangun pergaulan.

“Dulu, meskipun pondok saya Lubangsa, saya sering berada di Latee karena belajar bahasa Arab bersama teman-teman. Tidak jarang juga saya dihukum pihak keamanan karena beberapa hal,” kenang alumnus MTs. 1 Annuqayah tahun 2006 ini yang disambut antusiasme para murid.

Suasana semakin cair ketika moderator turut menceritakan sisi lain Prof. Siboy semasa menjadi murid. Ia berkelakar bahwa Prof. Siboy dahulu termasuk murid yang unik karena mampu menjalin kedekatan dengan banyak guru. Bahkan, bukan hanya wali kelasnya sendiri yang menjadi tempat bercerita, melainkan juga wali kelas lainnya.

Prof. Siboy juga mengenang pengalamannya saat aktif sebagai pengurus OSIS di MTs. 1 Annuqayah. Baginya, pengalaman berorganisasi menjadi bagian penting dari proses pembentukan diri hingga mencapai posisi seperti sekarang.

“Jadi santri itu harus percaya diri. Yang nakal saja bisa jadi profesor, apalagi yang tidak,” ujarnya, yang langsung disambut riuh tawa hadirin.

Selain kompetensi dan kepercayaan diri, ia mengingatkan pentingnya menjaga amalan dan kebiasaan baik selama menjadi santri. Menurutnya, apa yang ditanamkan selama berada di pesantren akan memberikan pengaruh dalam kehidupan pada masa mendatang.

Ia juga berpesan agar setiap murid memiliki amalan yang diijazahkan oleh kiai sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan.

“Selain menjaga salat berjamaah, sampai sekarang saya tetap istiqamah membaca Surah Yasin, Al-Waqiah, dan Al-Mulk dalam keseharian. Saya berharap para murid juga memiliki amalan yang terus dijaga sebagai pegangan hidup,” tuturnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif. Salah seorang murid kelas IX E, Sadana Ghani Al Mughni, mengajukan pertanyaan tentang kedudukan ilmu dan akhlak: mana yang lebih penting di antara keduanya?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof. Siboy menegaskan bahwa ilmu dan akhlak harus berjalan beriringan. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam membentuk pribadi santri yang utuh.

“Ilmu itu kendaraan, sedangkan akhlak adalah rambu-rambunya. Ilmu adalah tentang rasio, sementara akhlak adalah soal rasa,” jelas lulusan program doktoral Universitas Brawijaya Malang tersebut.

Antusiasme juga dirasakan oleh Alif Badrul Qamar, murid kelas VIII A. Ia mengaku menikmati jalannya talk show yang berlangsung sekitar satu jam. Menurutnya, waktu terasa begitu singkat karena penyampaian Prof. Siboy yang menarik dan diselingi banyak cerita tentang pengalaman semasa mondok.

“Saya sangat termotivasi untuk senantiasa belajar dan mengembangkan potensi diri,” ungkap Alif.

Melalui dialog dan berbagi pengalaman ini, para murid diajak melihat kembali kehidupan santri bukan hanya sebagai proses menuntut ilmu, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun karakter, memperluas pergaulan, mengembangkan kompetensi, dan menyiapkan diri menghadapi masa depan. (Sya/Az)

Bagikan Artikel

3 Komentar

Ah. Nizar, SHI
Ah. Nizar, SHI
Jumat, 23 Oktober 2026

Orang yang sukses pasti ada rahasia yang tersembunyi. Siapa sangka kayak siboy yang dulu kita lihat sebagai orang selalu melanggar pesantren, ternyata menerima dengan ikhlas setiap hukuman yang di kasi keamanan. Dan termasuk dia mampu hadir dibelakang kia

M. Badri
M. Badri
Jumat, 23 Oktober 2026

Sangat menginspirasi! Kegiatan seperti ini layak untuk digalakkan untuk memotivasi siswa agar senantiasa semangat belajar.

Mutlah
Mutlah
Jumat, 23 Oktober 2026

Juga menangapi prihal seorang prof beliau memang tekun dan konsisten dalam hal apapun termasuk hal amalan apalagi dalam jurnalisnya tutur beliau waktu bincang2 di Ruang guru waktu sekitar jam 10 perkiraan 22102026

Berikan Komentarmu

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kontak Kami Whatsapp