FILSAFAT PERDANA: SEBUAH TULISAN BIASA
Menurut kalian, hal seperti apa yang paling penting di dunia ini? Makanan? Minuman? Tidur yang cukup? Pakaian? Tempat tinggal? Bagaimana bentuknya? Apakah bulat? Oval? Kotak? Seperti apa sifatnya? Padatkah, cairkah, gaskah atau tidak berwujud alias abstrak?
Kenyataannya, kita tidak dapat dengan mudah menetapkan bahwa sesuatu itu sebagai hal paling penting. Sifatnya ialah subjektif, jadi bisa berbeda setiap orang. Apabila kita tanyakan kepada orang yang sedang kelaparan, ia akan menjawab makan hingga kenyang. Meluangkan waktu untuk bertanya kepada orang yang kedinginan, ia, sudah jelas akan menjawab bahwa pakain tebal adalah hal paling penting. Seorang pemain bisbol akan mengatakan tongkat beserta sarung tangan. Uang bagi orang miskin, dan mahkota bagi raja.
Mayoritas dari mereka menjawab berdasarkan situasi, kondisi, status sosial serta hasrat masing-masing. Hal ini memperjelas kenyataan bahwa betapa tidak mungkinnya dua orang dengan perbedaan, bahkan di salah satu aspek, dapat memiliki kesamaan persepsi terkait apa yang paling penting di dunia ini.
Tentunya, pertanyaan tersebut hanya akan ditanyakan oleh mereka yang ketiga kebutuhan primernya terpenuhi. Bagi mereka yang belum memenuhi kebutuhan pokok hidup manusia, kecil kemungkinan akan mempertanyakan keberadaan sesuatu yang paling penting selain bertahan hidup, karena prioritas mereka adalah bagaimana mencukupi hidup, bukan merenungi hidup.
Tapi, percayakah kalian jika muncul statement berbunyi ”ada sesuatu yang begitu penting setelah kebutuhan finansial setiap orang terpenuhi,”? Jawabannya, ada. ‘Sesuatu’ itu adalah mengetahui ‘siapa kita’ dan ‘mengapa dunia itu ada’.
Dua pertanyaan ini bukan sekedar pertanyaan ringan seperti “kapan mau nikah?” yang sering kali dilontarkan ibu-ibu kondangan setiap kali bertemu anak muda berstatus bujangan. Butuh kematangan logika yang pas untuk bisa memberikan spekulasi secara kritis serta sistematis walau belum tentu spekulasinya benar.
Karena itulah filsafat tercipta. Kalian bertanya, bagaimana filsafat bisa berhubungan dengan pertanyaan ‘siapa kita’ dan lain semacamnya? Sebenarnya, filsafat lahir dari pertanyaan penuh keraguan orang-orang terdahulu akan dunia ini. Saat mereka sadar betapa indah alam semesta dan betapa menakjubkan makhluk bernama manusia, pertanyaan tersebut muncul secara alamiah sebagai tanggapan atas kekaguman mereka. Mereka pun mulai mencari jawaban mengenai ‘apa itu dunia’; memperhatikan alam sekitar lalu menyusun teori sendiri menggunakan akal pikiran. Merekalah yang dikemudian hari kita panggil sebagai ‘filsuf’.
Para filsuf percaya bahwa dunia penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Mereka juga yakin bahwa tujuan mereka dilahirkan adalah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena itulah, kebanyakan dari mereka mendedikasikan setengah dari umur sendiri untuk mencari jawabannya. Keteguhan dari mereka sungguhlah besar. Beberapa bahkan rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran.
Fokus awal filsafat pada masa kelahiran ialah mencari penjelasan dari mana datangnya dunia. Hal ini disebabkan oleh beberapa filsuf yang tidak mempercayai keberadaan dari para dewa-dewa dan peran mereka sebagai penguasa dunia. Para filsuf beranggapan bahwa para dewa-dewa agung seperti Zeus, Thor, Odin, Apollo dan lain sebagainya hanya bentuk pelarian masyarakat untuk menjelaskan bagaimana fenomena alam dapat terjadi. Seperti kisah Thor yang kehilangan palunya.
Dikisahkan, para raksasa membawa lari palu Thor ketika ia sedang tidur ke Usgard, tempat tinggal para raksasa. Saat bangun dan menyadari palunya telah hilang, Thor, seorang Dewa Kesuburan, Menjadi sangat marah bukan kepalang. Saking murkanya, ia sampai membuat tanah Midgard menjadi kering kerontang (Midgard adalah dunia yang ada diantara Asgard dan Usgard, tempat para manusia hidup. Dari sini kita bisa melihat, bagaimana imajinasi orang-orang di masa lampau dijadikan sebagai penjelasan atas fenomena alam yang terjadi oleh masyarakat umum). Musim kemarau diakibatkan amarah Dewa Thor. Suara guntur juga ditimpakan kepadanya beserta palunya.
Fenomena ini dinamakan ‘Logika Mistika’ (istilah dari Tan Malaka dalam buku Madilog: Realitasme, Dialektika dan Logika; salah seorang tokoh pejuang Indonesia), yaitu perihal keyakinan hal-hal mistis adalah bagian dari realitas. Banyak orang-orang, terutama di Yunani, menganut kepercayaan tersebut.
Para filsuf, sebaliknya, tidak setuju dengan cara pandang masyarakat. Seperti penjelasan sebelumnya, mereka menganggap bahwa para dewa ‘dilahirkan’ oleh aspirasi-aspirasi imajinatif. Tidak ada bukti konkret terkait keberadaan dewa-dewa sehingga menimbulkan keraguan dalam pembenarannya.
Filsuf-filsuf paling awal di juluki ‘para filsuf alam’ karena, lagi dan lagi, kemungkaran mereka pada Logika Mistika. Sebagian dari mereka disebut sebagai ‘Tiga Filsuf dari Miletus’ karena tempat mereka lahir sama-sama berasal dari Miletus. Mereka adalah Thales , Anaximenes, dan Anaximander. Landasan teori mereka juga mirip, yaitu percaya bahwa asal-muasal dari seluruh kehidupan dimulai dari satu unsur penyusun. Thales percaya air sebagai awal dari segala kehidupan. Anaximenes percaya bahwa udara adalah unsur penyusun kehidupan. Anaximender tidak mengatakan secara pasti unsur seperti apa yang dia percayai sebagai unsur penyusun, namun dia yakin akan adanya keberadaan zat tunggal, dasar dari segalanya.
Mari kita langsung loncat pada para pemikir yang jejaknya bisa kita temukan dimana saja. Mereka adalah Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Kita mulai dari Socrates, Bapak filsafat dunia. Lahir pada tahun 470-399 SM, Socrates layaknya papan puzzle yang kehilangan sebagian besar kepingannya. Betapa misterius kehidupan misterinya. Ia tidak pernah menulis buku, bahkan satu kalimat pun. Meski begitu, Socrates menjadi tokoh paling penting dalam perkembangan filsafat secara historis karena diyakini memiliki peran besar pembentukan beberapa aliran filsafat.
Pertanyaan pun muncul, bagaimana kita bisa mengetahui pengaruh Socrates sedang dia tidak pernah menulis apapun?
Adalah benar ia tak menulis apa-apa. Tapi Plato, salah seorang murid Socrates, dalam beberapa buku yang ia tulis, menggunakan figur si guru sebagai media penyampaian gagasan. Dari sini kita bisa mengenal watak Socrates lebih jelas. Bentuk dari cara berfilsafat Socrates ialah berdiskusi. Ia pernah berkata bahwa dirinya adalah seorang bidan yang membantu orang lain melahirkan (mengacu kepada profesi ibunya) pemikiran kritis serta objektif rata-rata pemikirannya didapat melalui mendebat orang cerdas. Socrates bertingkah seolah tidak tahu apa-apa dengan selalu bertanya namun disatu sisi pertanyaan yang dilontarkan telak membuat lawan bicara terdiam hingga mengaku tidak tahu apa-apa. Karena itulah, ia dianggap ancaman berbahaya oleh pemerintah sehingga dihukum mati dengan diberi minum anggur beracun. Kata-katanya yang paling terkenal adalah “Aku tidak tahu apa-apa kecuali tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa,”
Yang kedua adalah Plato, murid Socrates. Lahir pada 428-347 SM, dengan berbagai pemikiran, beberapa diilhami sang guru. Teorinya yang paling terkenal adalah ‘konsep Dunia Ide’.
Apakah kalian pernah berpikir, mengapa satu jenis makhluk hidup, misalnya kuda (Substansi) memiliki ciri khas, seperti dengkingan, ekor, pola gerak serta langkah kakinya (Esensi)? Plato dengan senang hati akan menjawab. Ia akan mengatakan bahwa dunia ini dibagi menjadi dua: Dunia Realitas, dunia tempat kita tinggal kontemporer serta tidak sempurna alias cacat, dan Dunia Ide, dunia dimana segala sesuatu di Dunia realitas berasal pun sempurna. Dunia Ide adalah kiblat dari semua hal di dunia Realitas. Analoginya, puluhan kue jahe berasal dari satu cetakan. Setiap kue jahe pasti tidak seratus persen sempurna, ada yang tangannya putus, ada yang buta, ada yang tipis, ada yang tebal atau lain semacamnya. Namun semuanya berasal dari satu cetakan sama, yang secara modus abstrak disebut ‘sempurna’. Artinya, ‘Dunia Ide’ adalah ‘sebab’ dan menjadi ada karenanya; sedang Dunia Realitas adalah ‘akibat’ dan menjadi ada karena keberadaan ‘Dunia Ide’.
Ia juga berkata bahwa indra kita tidak dapat dipercaya sepenuhnya, karena persepsi seseorang dengan orang lain tentang suatu hal selalu memiliki perbedaan sehingga sulit menentukan persepsi mana yang dapat dikatakan kebenaran mutlak. Oleh karena itu, Plato lebih memilih percaya akal (logos) miliknya sebagai segala sumber pengetahuan. Ini disebut sebagai ‘Ide bawaan’, konsep dunia dari Dunia Ide kita.
Terakhir ada Aristoteles 384-322 SM, murid dari Plato. Sebagai seorang murid, Aristoteles dengan tegas membantah semua teori-teori Plato mengenai ‘Dunia Ide’. Ia mengatakan bahwa gurunya telah menjungkir-balikkan cerita sehingga sesuai dengan keinginan si guru. Agar lebih jelas, kita gunakan istilah ‘Kuda ide’ sebagai perwujudan ‘Dunia Ide’ dan ‘Kuda Cacat’ sebagai sebaliknya.
Bagi Aristoteles, keberadaan ‘Kuda Ide’ itu tidak mendahului ‘Kuda Cacat’ (istilah ‘Kuda Ide’ menurut Aristoteles adalah esensi dari ‘Kuda Cacat’ yang menjadi substansi mutlak), justru ‘Kuda Ide’ eksis karena adanya ‘Kuda Cacat’ sebagai modal utama. Paradoks ‘Dunia Ide’ diantara kedua orang ini mungkin berakar pada orientasi realitas mereka. Plato yakin bahwa realitas tertinggi ialah segala sesuatu yang kita konsepkan didalam pikiran (conceptualized), sedang bagi Aristoteles, hakikat realitas adalah segala hal yang dapat ditangkap melalui indra perasa (realized).
Selain kritikan pedas kepada teori Plato, Aristoteles juga mengemukan beberapa pemikiran lainnya seperti: suatu substansi memiliki potensial untuk berubah menjadi aktual setelah melewati fase ‘perubahan alam’ sehingga menciptakan esensi tertentu; mengemukan konsep logika mutlak (contoh Premis satu: Setiap makhluk hidup pasti akan mati. Premis dua: Manusia adalah makhluk hidup. Hasil final:Manusia akan mati); tangga alam; hakikat etika; dlsb.
Kita cukupkan saja dulu sampai sini, karena meski belum sepenuhnya kita mendalami filsafat, media penyampaian kurang mendukung. Jika saudara ingin mengenal filsafat lebih dalam lagi, silahkan saudara belajar sendiri! Salam transformasi!
Menurut kalian, hal seperti apa yang paling penting di dunia ini? Makanan? Minuman? Tidur yang cukup? Pakaian? Tempat tinggal? Bagaimana bentuknya? Apakah bulat? Oval? Kotak? Seperti apa sifatnya? Padatkah, cairkah, gaskah atau tidak berwujud alias abstrak?
Kenyataannya, kita tidak dapat dengan mudah menetapkan bahwa sesuatu itu sebagai hal paling penting. Sifatnya ialah subjektif, jadi bisa berbeda setiap orang. Apabila kita tanyakan kepada orang yang sedang kelaparan, ia akan menjawab makan hingga kenyang. Meluangkan waktu untuk bertanya kepada orang yang kedinginan, ia, sudah jelas akan menjawab bahwa pakain tebal adalah hal paling penting. Seorang pemain bisbol akan mengatakan tongkat beserta sarung tangan. Uang bagi orang miskin, dan mahkota bagi raja.
Mayoritas dari mereka menjawab berdasarkan situasi, kondisi, status sosial serta hasrat masing-masing. Hal ini memperjelas kenyataan bahwa betapa tidak mungkinnya dua orang dengan perbedaan, bahkan di salah satu aspek, dapat memiliki kesamaan persepsi terkait apa yang paling penting di dunia ini.
Tentunya, pertanyaan tersebut hanya akan ditanyakan oleh mereka yang ketiga kebutuhan primernya terpenuhi. Bagi mereka yang belum memenuhi kebutuhan pokok hidup manusia, kecil kemungkinan akan mempertanyakan keberadaan sesuatu yang paling penting selain bertahan hidup, karena prioritas mereka adalah bagaimana mencukupi hidup, bukan merenungi hidup.
Tapi, percayakah kalian jika muncul statement berbunyi ”ada sesuatu yang begitu penting setelah kebutuhan finansial setiap orang terpenuhi,”? Jawabannya, ada. ‘Sesuatu’ itu adalah mengetahui ‘siapa kita’ dan ‘mengapa dunia itu ada’.
Dua pertanyaan ini bukan sekedar pertanyaan ringan seperti “kapan mau nikah?” yang sering kali dilontarkan ibu-ibu kondangan setiap kali bertemu anak muda berstatus bujangan. Butuh kematangan logika yang pas untuk bisa memberikan spekulasi secara kritis serta sistematis walau belum tentu spekulasinya benar.
Karena itulah filsafat tercipta. Kalian bertanya, bagaimana filsafat bisa berhubungan dengan pertanyaan ‘siapa kita’ dan lain semacamnya? Sebenarnya, filsafat lahir dari pertanyaan penuh keraguan orang-orang terdahulu akan dunia ini. Saat mereka sadar betapa indah alam semesta dan betapa menakjubkan makhluk bernama manusia, pertanyaan tersebut muncul secara alamiah sebagai tanggapan atas kekaguman mereka. Mereka pun mulai mencari jawaban mengenai ‘apa itu dunia’; memperhatikan alam sekitar lalu menyusun teori sendiri menggunakan akal pikiran. Merekalah yang dikemudian hari kita panggil sebagai ‘filsuf’.
Para filsuf percaya bahwa dunia penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Mereka juga yakin bahwa tujuan mereka dilahirkan adalah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena itulah, kebanyakan dari mereka mendedikasikan setengah dari umur sendiri untuk mencari jawabannya. Keteguhan dari mereka sungguhlah besar. Beberapa bahkan rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran.
Fokus awal filsafat pada masa kelahiran ialah mencari penjelasan dari mana datangnya dunia. Hal ini disebabkan oleh beberapa filsuf yang tidak mempercayai keberadaan dari para dewa-dewa dan peran mereka sebagai penguasa dunia. Para filsuf beranggapan bahwa para dewa-dewa agung seperti Zeus, Thor, Odin, Apollo dan lain sebagainya hanya bentuk pelarian masyarakat untuk menjelaskan bagaimana fenomena alam dapat terjadi. Seperti kisah Thor yang kehilangan palunya.
Dikisahkan, para raksasa membawa lari palu Thor ketika ia sedang tidur ke Usgard, tempat tinggal para raksasa. Saat bangun dan menyadari palunya telah hilang, Thor, seorang Dewa Kesuburan, Menjadi sangat marah bukan kepalang. Saking murkanya, ia sampai membuat tanah Midgard menjadi kering kerontang (Midgard adalah dunia yang ada diantara Asgard dan Usgard, tempat para manusia hidup. Dari sini kita bisa melihat, bagaimana imajinasi orang-orang di masa lampau dijadikan sebagai penjelasan atas fenomena alam yang terjadi oleh masyarakat umum). Musim kemarau diakibatkan amarah Dewa Thor. Suara guntur juga ditimpakan kepadanya beserta palunya.
Fenomena ini dinamakan ‘Logika Mistika’ (istilah dari Tan Malaka dalam buku Madilog: Realitasme, Dialektika dan Logika; salah seorang tokoh pejuang Indonesia), yaitu perihal keyakinan hal-hal mistis adalah bagian dari realitas. Banyak orang-orang, terutama di Yunani, menganut kepercayaan tersebut.
Para filsuf, sebaliknya, tidak setuju dengan cara pandang masyarakat. Seperti penjelasan sebelumnya, mereka menganggap bahwa para dewa ‘dilahirkan’ oleh aspirasi-aspirasi imajinatif. Tidak ada bukti konkret terkait keberadaan dewa-dewa sehingga menimbulkan keraguan dalam pembenarannya.
Filsuf-filsuf paling awal di juluki ‘para filsuf alam’ karena, lagi dan lagi, kemungkaran mereka pada Logika Mistika. Sebagian dari mereka disebut sebagai ‘Tiga Filsuf dari Miletus’ karena tempat mereka lahir sama-sama berasal dari Miletus. Mereka adalah Thales , Anaximenes, dan Anaximander. Landasan teori mereka juga mirip, yaitu percaya bahwa asal-muasal dari seluruh kehidupan dimulai dari satu unsur penyusun. Thales percaya air sebagai awal dari segala kehidupan. Anaximenes percaya bahwa udara adalah unsur penyusun kehidupan. Anaximender tidak mengatakan secara pasti unsur seperti apa yang dia percayai sebagai unsur penyusun, namun dia yakin akan adanya keberadaan zat tunggal, dasar dari segalanya.
Mari kita langsung loncat pada para pemikir yang jejaknya bisa kita temukan dimana saja. Mereka adalah Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Kita mulai dari Socrates, Bapak filsafat dunia. Lahir pada tahun 470-399 SM, Socrates layaknya papan puzzle yang kehilangan sebagian besar kepingannya. Betapa misterius kehidupan misterinya. Ia tidak pernah menulis buku, bahkan satu kalimat pun. Meski begitu, Socrates menjadi tokoh paling penting dalam perkembangan filsafat secara historis karena diyakini memiliki peran besar pembentukan beberapa aliran filsafat.
Pertanyaan pun muncul, bagaimana kita bisa mengetahui pengaruh Socrates sedang dia tidak pernah menulis apapun?
Adalah benar ia tak menulis apa-apa. Tapi Plato, salah seorang murid Socrates, dalam beberapa buku yang ia tulis, menggunakan figur si guru sebagai media penyampaian gagasan. Dari sini kita bisa mengenal watak Socrates lebih jelas. Bentuk dari cara berfilsafat Socrates ialah berdiskusi. Ia pernah berkata bahwa dirinya adalah seorang bidan yang membantu orang lain melahirkan (mengacu kepada profesi ibunya) pemikiran kritis serta objektif rata-rata pemikirannya didapat melalui mendebat orang cerdas. Socrates bertingkah seolah tidak tahu apa-apa dengan selalu bertanya namun disatu sisi pertanyaan yang dilontarkan telak membuat lawan bicara terdiam hingga mengaku tidak tahu apa-apa. Karena itulah, ia dianggap ancaman berbahaya oleh pemerintah sehingga dihukum mati dengan diberi minum anggur beracun. Kata-katanya yang paling terkenal adalah “Aku tidak tahu apa-apa kecuali tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa,”
Yang kedua adalah Plato, murid Socrates. Lahir pada 428-347 SM, dengan berbagai pemikiran, beberapa diilhami sang guru. Teorinya yang paling terkenal adalah ‘konsep Dunia Ide’.
Apakah kalian pernah berpikir, mengapa satu jenis makhluk hidup, misalnya kuda (Substansi) memiliki ciri khas, seperti dengkingan, ekor, pola gerak serta langkah kakinya (Esensi)? Plato dengan senang hati akan menjawab. Ia akan mengatakan bahwa dunia ini dibagi menjadi dua: Dunia Realitas, dunia tempat kita tinggal kontemporer serta tidak sempurna alias cacat, dan Dunia Ide, dunia dimana segala sesuatu di Dunia realitas berasal pun sempurna. Dunia Ide adalah kiblat dari semua hal di dunia Realitas. Analoginya, puluhan kue jahe berasal dari satu cetakan. Setiap kue jahe pasti tidak seratus persen sempurna, ada yang tangannya putus, ada yang buta, ada yang tipis, ada yang tebal atau lain semacamnya. Namun semuanya berasal dari satu cetakan sama, yang secara modus abstrak disebut ‘sempurna’. Artinya, ‘Dunia Ide’ adalah ‘sebab’ dan menjadi ada karenanya; sedang Dunia Realitas adalah ‘akibat’ dan menjadi ada karena keberadaan ‘Dunia Ide’.
Ia juga berkata bahwa indra kita tidak dapat dipercaya sepenuhnya, karena persepsi seseorang dengan orang lain tentang suatu hal selalu memiliki perbedaan sehingga sulit menentukan persepsi mana yang dapat dikatakan kebenaran mutlak. Oleh karena itu, Plato lebih memilih percaya akal (logos) miliknya sebagai segala sumber pengetahuan. Ini disebut sebagai ‘Ide bawaan’, konsep dunia dari Dunia Ide kita.
Terakhir ada Aristoteles 384-322 SM, murid dari Plato. Sebagai seorang murid, Aristoteles dengan tegas membantah semua teori-teori Plato mengenai ‘Dunia Ide’. Ia mengatakan bahwa gurunya telah menjungkir-balikkan cerita sehingga sesuai dengan keinginan si guru. Agar lebih jelas, kita gunakan istilah ‘Kuda ide’ sebagai perwujudan ‘Dunia Ide’ dan ‘Kuda Cacat’ sebagai sebaliknya.
Bagi Aristoteles, keberadaan ‘Kuda Ide’ itu tidak mendahului ‘Kuda Cacat’ (istilah ‘Kuda Ide’ menurut Aristoteles adalah esensi dari ‘Kuda Cacat’ yang menjadi substansi mutlak), justru ‘Kuda Ide’ eksis karena adanya ‘Kuda Cacat’ sebagai modal utama. Paradoks ‘Dunia Ide’ diantara kedua orang ini mungkin berakar pada orientasi realitas mereka. Plato yakin bahwa realitas tertinggi ialah segala sesuatu yang kita konsepkan didalam pikiran (conceptualized), sedang bagi Aristoteles, hakikat realitas adalah segala hal yang dapat ditangkap melalui indra perasa (realized).
Selain kritikan pedas kepada teori Plato, Aristoteles juga mengemukan beberapa pemikiran lainnya seperti: suatu substansi memiliki potensial untuk berubah menjadi aktual setelah melewati fase ‘perubahan alam’ sehingga menciptakan esensi tertentu; mengemukan konsep logika mutlak (contoh Premis satu: Setiap makhluk hidup pasti akan mati. Premis dua: Manusia adalah makhluk hidup. Hasil final:Manusia akan mati); tangga alam; hakikat etika; dlsb.
Kita cukupkan saja dulu sampai sini, karena meski belum sepenuhnya kita mendalami filsafat, media penyampaian kurang mendukung. Jika saudara ingin mengenal filsafat lebih dalam lagi, silahkan saudara belajar sendiri! Salam transformasi!
Oleh: Birru Dhiailhaque Assufi*
Siswa Kelas VIII B, MTs. 1 Annuqayah